Mengenal Udang Galah SiJawa
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan kelompok Macro Crustacea atau udang air tawar berukuran besar, sehingga sering disebut sebagai Giant Freshwater Prawn. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) memiliki karakter biologis khas, antara lain mengalami proses moulting (pergantian kulit), bersifat kanibalisme, serta tergolong organisme bentik nokturnal, yaitu aktif pada malam hari dan hidup di dasar perairan.
Dalam siklus hidupnya, udang galah (Macrobrachium rosenbergii) memerlukan lingkungan air tawar dan air payau. Fase dewasa hidup di air tawar (0 ppt), sedangkan fase larva memerlukan kondisi air payau (8–15 ppt). Siklus hidupnya dimulai dari telur yang telah dibuahi. Telur tersebut selanjutnya menetas menjadi larva, berkembang menjadi juvenil, udang galah muda, hingga akhirnya menjadi udang galah dewasa. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) memiliki beberapa morfotype yang dibedakan berdasarkan ukuran tubuh dan perkembangan capit.
Pengembangan Udang Galah SiJawa dilakukan melalui proses domestikasi di Balai Budidaya Udang Galah (BBUG) Samas yang berlokasi di Pantai Samas, Ngepet, Srigading Sanden, Bantul, DI.Yogyakarta. BBUG Samas dibangun pada tahun 1983/1984 dan mulai operasional tahun 1985 sebagai salah satu unit produksi Benih Udang Galah terbesar di Indonesia. Pada tahun 2009, BBUG menjadi salah satu Unit Kerja BPTPB (UKBAP Samas). Balai ini memiliki pengalaman penting dalam pengendalian penyakit, khususnya Wabah Penyakit Ekor Putih (WTD) akibat infeksi MrNV pada tahun 2012. Semua induk dimusnahkan dan sterilisasi hatchery beberapa bulan.
Proses domestikasi Udang Galah dimulai sejak tahun 2013 dengan pengoleksian calon induk, kemudian pada tahun 2013-2018 dilanjutkan dengan perbanyakan induk dan benih G1-G3. Tahap berikutnya dilakukan uji ketahanan penyakit, toleransi lingkungan, dan uji multilokasi pada tahun 2018-2019. Pada tahun 2020 dilakukan perbanyakan induk dan benih G4. Selanjutnya dilakukan uji ketahanan penyakit, toleransi lingkungan, dan genotipe pada tahun 2021, hingga akhirnya pada tahun 2022 Udang Galah SiJawa resmi dirilis melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor 23 Tahun 2022.
Udang Galah SiJawa memiliki karakter morfometrik yang telah diukur secara ilmiah melalui beberapa parameter meliputi panjang total, panjang karapas, panjang rostrum, panjang capit, panjang abdomen, panjang ekor, dan panjang standar. Pengukuran dilakukan dengan jumlah sampel udang yang diuji sebanyak 60 ekor, yang terdiri atas 30 ekor jantan dan 30 ekor betina. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa udang galah jantan memiliki ukuran dan bobot tubuh yang lebih besar dibandingkan betina. Rata-rata panjang total udang jantan mencapai 15,26 ± 0,60 cm dengan bobot tubuh 48,11 ± 5,96 g, sedangkan udang betina memiliki rata-rata panjang total 13,50 ± 1,12 cm dengan bobot tubuh 29,04 ± 4,49 g.
Perbedaan udang galah jantan dan betina dapat diamati dari ukuran tubuh, struktur kaki, bentuk perut, pleuron, serta letak alat kelaminnya. Udang galah jantan umumnya memiliki ukuran tubuh relatif lebih besar dengan pasangan kaki jalan kedua yang berkembang lebih panjang dan besar, bahkan dapat mencapai sekitar 1,5 kali panjang total tubuhnya. Bagian perut jantan cenderung lebih ramping, memiliki ukuran pleuron yang lebih pendek, serta alat kelamin (petasma) terletak pada basis pasangan kaki jalan kelima. Sebaliknya, udang galah betina memiliki ukuran tubuh lebih kecil, pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh lebih besar, tetapi tidak sebesar dan sepanjang udang jantan, bagian perut lebih besar, pleuron memanjang, serta alat kelamin (thelicum) yang terletak pada pangkal kaki jalan ketiga. (ra)
Referensi