Ikan Sidat (Anguilla bicolor), Spesies Bernilai Tinggi yang Perlu Perhatian Serius
Ikan sidat (Anguilla bicolor) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi dan gizi tinggi yang banyak ditemukan di perairan Indonesia. Spesies ini termasuk ikan katadromus, yakni ikan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan tawar namun bermigrasi ke laut untuk memijah.
Secara biologis, ikan sidat memiliki tubuh memanjang menyerupai pita dengan kedua ujung yang runcing dan bagian tengah tubuh lebih lebar. Panjang tubuhnya dapat mencapai 123 cm dengan bobot mulai dari 0,55 gram hingga sekitar 1 kilogram. Dalam siklus hidupnya, ikan sidat dapat berada di laut selama 4–6 bulan untuk melakukan ruaya pemijahan sebelum kembali menuju perairan estuari dan sungai.
Berdasarkan klasifikasi ilmiah, ikan sidat termasuk dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Actinopterygii, Ordo Anguilliformes, Famili Anguillidae, dan Genus Anguilla. Di Indonesia, penyebarannya cukup luas, meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua, dengan salah satu lokasi yang dikenal sebagai habitatnya adalah Sungai Cimandiri.
Ikan sidat hidup di perairan tawar, payau, hingga laut, dengan preferensi pada sungai berbatu yang memiliki arus sedang hingga deras, terutama di wilayah pesisir rendah. Spesies ini umumnya hidup pada rentang suhu tropis sekitar 22–27°C.
Dari sisi manfaat, ikan sidat dikenal memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Dagingnya kaya akan vitamin larut air seperti vitamin B dan C, serta vitamin larut lemak A, D, E, dan K. Vitamin A pada ikan sidat berperan penting dalam menjaga kesehatan mata, kulit, dan rambut, meningkatkan daya tahan tubuh, serta berpotensi membantu pencegahan penyakit degeneratif seperti kanker dan katarak.
Namun demikian, keberadaan ikan sidat saat ini menghadapi berbagai ancaman serius. Perdagangan benih ilegal, kerusakan habitat, serta terhambatnya jalur migrasi akibat pembangunan menjadi faktor utama penurunan populasi. Selain itu, ketergantungan pada benih alam dan belum optimalnya teknologi pemijahan buatan turut memperparah kondisi tersebut. Tingginya harga pakan dan lemahnya pengawasan juga menjadi tantangan dalam upaya budidaya dan konservasi.
Berdasarkan penilaian IUCN, ikan sidat berstatus Near Threatened atau hampir terancam. Status ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak untuk meningkatkan upaya pengelolaan dan pelestarian, baik melalui kebijakan pemerintah, pengembangan teknologi budidaya, maupun peningkatan kesadaran masyarakat.
Dengan potensi ekonomi dan manfaat kesehatan yang besar, ikan sidat diharapkan dapat dikelola secara berkelanjutan agar tetap menjadi kekayaan hayati Indonesia yang lestari bagi generasi mendatang.
Poster ini disusun oleh Fardhan Ludfinanda Abiyyu Achmad dan Reni Ambarwati, S.Si., M.Sc.