Apakah Teripang sama dengan Timun Laut?
Istilah “teripang” memang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Dalam konteks biologi, istilah tersebut memiliki makna yang lebih sempit dibandingkan kelompok hewan ini yang sesungguhnya, yaitu timun laut (Kelas Holothuroidea, Filum Echinodermata). Tidak semua timun laut dapat disebut teripang, karena sebutan ini hanya diberikan kepada sebagian kecil spesies yang diambil dari laut dalam kondisi segar kemudian diproses untuk tujuan komersial. Proses pascapanen tersebut meliputi pendinginan, pembekuan, perebusan, pengasinan, hingga pengeringan yang menghasilkan produk keras dan awet. Dengan demikian, teripang pada dasarnya merupakan istilah umum dalam perdagangan untuk menunjuk spesies timun laut yang memiliki nilai ekonomi, bukan seluruh keragaman taksonominya.
Dalam perdagangan internasional, teripang lebih dikenal dengan nama “trepang”, sebuah istilah yang diyakini berasal dari serapan bahasa Indonesia dan telah digunakan sejajar dengan sebutan “bêche-de-mer” dalam bahasa Prancis. Komoditas ini memiliki pasar yang sangat spesifik, terutama karena tingginya permintaan dari etnis Tionghoa yang tersebar di berbagai negara. Sejarah panjang konsumsi teripang oleh masyarakat Tionghoa menunjukkan bahwa kelompok inilah yang pertama kali memanfaatkan timun laut sebagai bahan pangan maupun obat tradisional. Nilai ekonominya yang tinggi mendorong peningkatan eksploitasi di berbagai wilayah pesisir, sehingga pengelolaan berkelanjutan menjadi penting untuk diperhatikan.

Sebagai organisme laut yang memiliki toleransi ekologis cukup luas, timun laut tersebar hampir di seluruh perairan tropis dan subtropis dunia. Namun, pusat keanekaragaman spesies sekaligus kelimpahan individunya terkonsentrasi di kawasan Indo-Pasifik, khususnya pulau-pulau di Asia Tenggara. Wilayah ini dikenal sebagai pusat megabiodiversitas laut dunia, sehingga tidak mengherankan jika ragam timun laut yang ditemukan sangat tinggi. Faktor lingkungan seperti struktur terumbu karang, ketersediaan bahan organik, serta kondisi oseanografi berperan penting dalam mendukung tingginya diversitas kelompok Holothuroidea di kawasan ini.
Hingga saat ini lebih dari 1.400 spesies timun laut telah dideskripsikan secara ilmiah dari berbagai belahan dunia, dan sekitar 66 spesies di antaranya masuk kategori teripang bernilai ekonomi. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki lebih dari 400 jenis timun laut, menjadikannya salah satu negara dengan kekayaan Holothuroidea terbesar. Penelitian terbaru mengungkap bahwa sedikitnya 56 spesies dimanfaatkan dalam perdagangan, terutama untuk kebutuhan ekspor, menunjukkan besarnya potensi sekaligus tekanan terhadap sumber daya ini (Setyastuti dkk, 2019). Oleh karena itu, kajian ilmiah mengenai biologi, reproduksi, dan dinamika populasi timun laut sangat diperlukan untuk mendukung pemanfaatan yang lestari dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia. (ra)
Referensi:
Setyastuti A, Wirawati I, Permadi S, dan Vimono IB, 2019. Teripang Indonesia: Jenis, Sebaran dan Status Nilai Ekonomi. Jakarta: PT. Media Sains
Nasional, 2019