Ikan Gulamah: Si Pemilik Omega-3 Tinggi yang Terancam Punah
Ikan gulamah (Argyrosomus amoyensis), ikan laut yang dikenal dengan kandungan gizi tinggi, terutama asam lemak omega-3, kini menghadapi ancaman serius akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Ikan yang hidup di perairan pantai dengan dasar berlumpur ini, dan dapat ditemukan di wilayah Indo-Pasifik Barat termasuk perairan Jawa, Indonesia, kini terancam keberadaannya.
Klasifikasi ilmiah ikan ini adalah sebagai berikut: Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Teleostei, Ordo Eupercaria/misc, Famili Sciacnidae, Genus Argyrosomus, dan Spesies Argyrosomus amoyensis. Ikan ini hidup di habitat dengan suhu yang disukai antara 24,7 hingga 29,2 oC.
Ancaman utama terhadap populasi ikan gulamah adalah penangkapan yang berlebihan, di mana ikan sering ditangkap saat masih berukuran kecil karena tingginya permintaan pasar. Selain itu, kerusakan habitat pesisir, muara, dan padang lamun akibat reklamasi serta aktivitas manusia semakin mengurangi tempat tinggal dan ruang berkembang biak spesies ini. Ancaman lain datang dari penurunan kualitas perairan akibat pencemaran limbah, logam berat, dan mikroplastik, yang dapat melemahkan sistem imun ikan dan membuatnya rentan terhadap serangan penyakit seperti infeksi bakteri dan parasit.
Di balik ancaman tersebut, ikan gulamah menyimpan manfaat gizi yang sangat berharga. Analisis komposisi kimia menunjukkan bahwa daging ikan ini mengandung asam lemak omega-3 sebanyak 42,8 gram per 100 gram, menjadikannya sumber lemak sehat yang sangat baik untuk kesehatan jantung dan berbagai fungsi tubuh lainnya. Sebagai ikan karnivora yang memangsa ikan kecil, udang, dan polychaeta, dagingnya juga kaya akan protein.
Dengan demikian, diperlukan upaya serius untuk mengelola sumber daya ikan gulamah secara berkelanjutan. Perlindungan habitat, penerapan kuota penangkapan, serta pengaturan ukuran ikan yang boleh ditangkap menjadi langkah kritis untuk mencegah kepunahan sekaligus memastikan pemanfaatan sumber pangan bernilai tinggi ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.
Poster ini disusun oleh Jennie Maya Sabrina dan Ahnadia Wulan Ramadana, S.Pi., M.Sc.