S1 Akuakultur FKP Unesa Gelar Aquaculture Development Program 2026 Seri 1: Kompetisi dan Berprestasi
Surabaya, 11 September 2026 — Program Studi S1 Akuakultur, Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melaksanakan Aquaculture Development Program 2026 Seri 1 dengan tema “Kompetisi dan Berprestasi”. Kegiatan ini menghadirkan Aisyah Al Khumaira, S.Pd., peraih berbagai penghargaan kompetisi tingkat nasional dan internasional, sebagai pemateri.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 11 September 2026 tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa S1 Akuakultur untuk membangun pola pikir kompetitif sekaligus mengembangkan potensi diri melalui keikutsertaan dalam berbagai kompetisi. Dalam pemaparannya, Aisyah mengajak mahasiswa untuk tidak memandang prestasi hanya dari perolehan piala, medali, maupun penghargaan, tetapi sebagai bagian dari proses pengembangan kompetensi dan karakter.
Mengangkat perspektif “Dari Coba-Coba Jadi Juara”, Aisyah membagikan pengalaman dan strategi dalam membangun perjalanan berprestasi. Ia menjelaskan bahwa kompetisi mahasiswa memiliki beragam bentuk, mulai dari business plan competition, business model canvas, karya tulis ilmiah, esai, debat, olimpiade, poster dan infografis, video kreatif, fotografi, artikel, hingga innovation competition.

Menurut materi yang disampaikan, prestasi juga tidak selalu harus berupa juara pertama, kedua, atau ketiga. Mahasiswa dapat memperoleh berbagai bentuk pencapaian seperti medali emas, perak, dan perunggu, menjadi finalis, meraih penghargaan Best Presenter, Best Paper, maupun Best Speaker, masuk Top 10 atau Top 20, hingga lolos pendanaan nasional.
Aisyah menekankan pentingnya mengubah paradigma dalam mengikuti kompetisi. Jika paradigma konvensional cenderung berorientasi pada hadiah, piala, dan pengakuan sosial, paradigma yang lebih berkembang menempatkan kompetisi sebagai sarana penguasaan kompetensi dan perkembangan diri. Prosesnya dilakukan melalui analisis kesenjangan kemampuan (gap analysis), latihan terencana, asesmen, dan refleksi. Bahkan, kegagalan dipandang bukan sebagai akhir, melainkan sebagai bahan untuk memperbaiki strategi.

Lebih lanjut, mahasiswa didorong untuk melihat kompetisi sebagai bagian dari self-development, bukan sekadar mengejar capaian akademik atau IPK. Keikutsertaan dalam kompetisi dapat melatih kemampuan akademik seperti logika berpikir, riset, critical thinking, dan literasi data. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengembangkan karakter, hard skill, soft skill, serta membangun relasi dengan dosen, teman, alumni, dan dunia industri yang dapat menjadi aset untuk pengembangan karier.
Dalam membangun konsistensi, mahasiswa disarankan untuk memulai dari hal kecil, menentukan tujuan, membuat jadwal, menjalankan rencana, dan melakukan evaluasi secara berkala. Sebelum mengikuti kompetisi, mahasiswa juga perlu mempertimbangkan kesesuaian kompetisi dengan tujuan pribadi, keterampilan yang dapat diperoleh, ketersediaan waktu, dampaknya terhadap perkembangan diri, serta ketertarikan pribadi agar tidak sekadar mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO).

Materi juga membahas cara memilih kompetisi yang tepat dan kredibel. Mahasiswa perlu memperhatikan penyelenggara, legalitas atau afiliasi, juri, timeline, sistem penilaian, dokumentasi, rekam jejak pemenang sebelumnya, serta biaya yang diperlukan. Dalam sebuah tim kompetisi, pembagian peran juga menjadi hal penting, seperti researcher, writer, designer, dan presenter.
Aisyah turut mengingatkan sejumlah kesalahan yang kerap dilakukan peserta, antara lain mengikuti lomba hanya karena hadiah, tidak membaca guidebook, mengembangkan ide terlalu luas, berusaha menyelesaikan terlalu banyak masalah sekaligus, menggunakan data yang tidak memadai, terlalu berfokus pada desain, melakukan presentasi secara monoton, tidak berlatih menghadapi sesi tanya jawab, serta tidak melakukan evaluasi setelah kompetisi.
Untuk menghasilkan karya yang kompetitif, mahasiswa diarahkan agar memulai dari masalah nyata di masyarakat. Riset yang dikembangkan perlu relevan dengan isu atau subtema kompetisi, memanfaatkan sumber daya lokal, melibatkan kolaborasi dengan pemangku kepentingan, serta menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berkelanjutan. Pengembangan ide juga dapat dikaitkan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dan Asta Cita yang selaras dengan gagasan penelitian.

Melalui Aquaculture Development Program 2026 Seri 1, S1 Akuakultur FKP Unesa berupaya mendorong mahasiswa untuk lebih aktif mengenali potensi diri, berani mengambil kesempatan, dan membangun pengalaman melalui kompetisi. Kegiatan ini sekaligus memperkuat pemahaman bahwa prestasi bukanlah hasil instan, melainkan buah dari proses belajar, latihan, konsistensi, evaluasi, dan keberanian untuk terus mencoba.
Pesan tersebut sejalan dengan kutipan yang disampaikan dalam materi kegiatan: “Pemuda hari ini harus turun tangan, berkarya nyata menjawab semesta Indonesia.”