Mahasiswa S1 Akuakultur FKP UNESA Ikuti Pelatihan Berpikir Damai untuk Perkuat Kesadaran Mental Civitas Akademika
Program Studi S1 Akuakultur, Fakultas Ketahanan Pangan (FKP), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), turut ambil bagian dalam kegiatan PIM BASI: Pelatihan Berpikir Damai (Bagian 1) yang diselenggarakan pada Senin (23/4). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya strategis dalam mendukung terciptanya lingkungan kampus yang aman dan sehat secara mental, sejalan dengan slogan “Aman kampusnya, sehat civitasnya.”
Perwakilan dari FKP yang hadir dalam kegiatan ini berasal dari berbagai program studi, termasuk S1 Akuakultur yang diwakili oleh Onny Tri Bagos Setyo Rahman. Kehadiran lintas prodi ini menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan akademik.
Pelatihan ini menekankan bahwa dasar utama dalam konseling adalah komunikasi terbuka, yang sering kali dimulai dari proses “curhat” atau berbagi cerita. Pendekatan ini membuka ruang bagi individu untuk mengungkapkan perasaan secara bebas sebelum diarahkan menuju solusi yang lebih terfokus. Selain itu, mahasiswa juga dikenalkan dengan layanan konseling kampus yang dapat diakses melalui sistem Siakadu, termasuk survei dan asesmen psikologis.
Materi pertama yang disampaikan oleh Muhammad Afifuddin Ghazali mengangkat konsep Reality Therapy yang berakar pada Choice Theory. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa sering kali terdapat ketidaksesuaian antara keyakinan individu dan realitas yang dihadapi, sehingga diperlukan penyesuaian agar individu dapat berfungsi secara optimal. Teknik WDEP (Wants, Doing, Evaluation, Planning) menjadi salah satu metode yang diperkenalkan untuk membantu individu merancang perubahan perilaku yang lebih adaptif.
Mahasiswa juga diajak memahami lima kebutuhan dasar manusia, yaitu survival, love and belonging, power, freedom, dan fun, yang berperan penting dalam proses pengambilan keputusan dan kesehatan mental. Dalam konteks ini, pentingnya membangun koneksi sosial menjadi sorotan utama, mengingat banyak permasalahan mental berakar dari ketidakmampuan individu untuk terhubung dengan lingkungan.
Pada sesi kedua, Dr. Wiyo Nuryono menekankan perbedaan antara kesadaran dan paksaan dalam membentuk perilaku. Ia memperkenalkan konsep “10 tombol ajaib” yang menjadi penggerak motivasi internal, serta teknik komunikasi efektif DENGAR Jang! yang menitikberatkan pada empati, perhatian penuh, dan respons yang tepat dalam interaksi interpersonal.
Sesi terakhir bersama Luthfita Cahya Irani membahas pentingnya menjadi individu yang fully functional, yakni mampu menghadapi berbagai situasi sosial dengan percaya diri dan penerimaan diri yang baik. Berbagai pendekatan psikologis seperti humanistik, behavioristik, kognitif, hingga psikoanalisis turut diperkenalkan sebagai cara memahami dan menangani permasalahan mental.
Dari perspektif Prodi S1 Akuakultur, kegiatan ini memberikan wawasan penting bahwa kesehatan mental tidak hanya relevan dalam bidang sosial-humaniora, tetapi juga menjadi fondasi dalam mendukung produktivitas dan kesejahteraan mahasiswa di bidang sains terapan. Kemampuan mengelola stres, membangun relasi, serta berpikir rasional menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan profesional ke depan.
Melalui pelatihan ini, diharapkan mahasiswa S1 Akuakultur FKP UNESA mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran mental yang kuat serta kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.