Kuliah Tamu Mahasiswa Baru 2026: Akuakultur Didorong Menjadi Garda Ketahanan Pangan Indonesia
Surabaya, 1 September 2026 — Program Studi S1 Akuakultur, Fakultas Ketahanan Pangan (FKP), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan Kuliah Tamu bagi Mahasiswa Baru 2026 dengan mengangkat tema “Akuakultur sebagai Garda Ketahanan Pangan Indonesia.” Kegiatan berlangsung pada Selasa, 1 September 2026, bertempat di Auditorium Fakultas Ketahanan Pangan Universitas Negeri Surabaya.
Kuliah tamu menghadirkan Prof. Dr. Ir. Desrina, M.Sc., Ketua Program Studi S1 Akuakultur Universitas Diponegoro, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Prof. Desrina mengajak mahasiswa baru memahami peran strategis akuakultur dalam menjawab kebutuhan pangan sekaligus melihat luasnya peluang pengembangan sektor perikanan budi daya di Indonesia. Materi kuliah umum mencakup akuakultur dan ketahanan pangan, keterkaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), potensi akuakultur Indonesia, peluang kerja di bidang akuakultur, serta tantangan dalam mewujudkan akuakultur yang berkelanjutan.

Prof. Desrina menjelaskan bahwa kebutuhan pangan dunia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Proyeksi penduduk dunia yang mencapai 9,7 miliar pada 2050 menjadi salah satu alasan penting perlunya pengembangan sumber pangan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, akuakultur menjadi salah satu sektor yang memiliki peran penting.
Menurut materi yang disampaikan, terdapat sejumlah alasan mengapa akuakultur semakin penting. Hasil perikanan tangkap cenderung menurun sementara kebutuhan pangan terus meningkat. Di sisi lain, sistem produksi akuakultur dinilai memiliki efisiensi yang baik dengan jejak lingkungan yang lebih rendah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga semakin membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas sektor akuakultur.
Akuakultur tidak hanya berperan dalam menyediakan pangan, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Sektor ini menyediakan sumber protein hewani yang terjangkau, mendukung pencapaian SDGs, khususnya tujuan zero hunger, serta berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi dan sosial.

Indonesia sendiri memiliki potensi akuakultur yang sangat besar. Kegiatan budi daya dapat dikembangkan pada berbagai ekosistem, mulai dari perairan tawar seperti sungai, danau, waduk, dan rawa; perairan payau di kawasan pasang surut, laguna, dan estuari; hingga wilayah laut seperti teluk dan laut.
Beragam komoditas juga dapat dikembangkan. Pada perairan tawar, antara lain terdapat ikan lele, nila, ikan mas, gurami, dan patin. Sementara pada perairan payau terdapat komoditas seperti udang vaname, udang windu, bandeng, kepiting bakau, rajungan, serta berbagai jenis rumput laut. Indonesia juga memiliki potensi pada sektor ikan hias, seperti koi, cupang, guppy, manfish, discus, arwana, dan neon tetra.
Dalam materi kuliah umum juga ditegaskan bahwa akuakultur merupakan industri yang terus berkembang di Indonesia. Sektor ini memiliki peran dalam menghasilkan devisa melalui ekspor, menyediakan sumber protein yang terjangkau, serta menciptakan lapangan pekerjaan, mata pencaharian, dan keamanan ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan akuakultur perlu diarahkan pada tujuan utama berupa akuakultur yang berkelanjutan.

Prof. Desrina juga menekankan bahwa akuakultur merupakan bidang yang bersifat multidisiplin. Pengembangannya tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam pemeliharaan ikan, tetapi juga melibatkan aspek sosial ekonomi dan bisnis, nutrisi dan pakan, sistem dan teknologi, pengelolaan penyakit, kualitas air dan tanah, serta pembenihan dan pemuliaan.
Karena itu, kebutuhan sumber daya manusia di bidang akuakultur sangat beragam. Dunia akuakultur membutuhkan pengelola dan teknisi, tenaga di bidang penelitian dan pengembangan seperti patolog, ahli nutrisi, dan ahli genetika, hingga tenaga pemerintahan, pendidikan, bisnis, logistik, rekayasa, otomasi, dan pengelolaan kualitas air.
Kepada mahasiswa baru, bidang akuakultur juga diperkenalkan sebagai bidang yang memiliki banyak pilihan jalur karier. Mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap alam dan hewan dapat menekuni pengelolaan hatchery dan farm. Mereka yang tertarik pada sains dapat mengembangkan diri sebagai ahli patologi akuatik, nutrisi ikan, genetika, bioteknologi, maupun biologi perairan. Sementara mahasiswa yang menyukai teknologi dapat berkarier pada bidang rekayasa akuakultur, manajemen air, dan otomasi.

Kuliah tamu ini diharapkan dapat memberikan perspektif kepada mahasiswa baru bahwa akuakultur bukan sekadar kegiatan budi daya ikan, melainkan bidang strategis yang berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan pangan, ekonomi, teknologi, lingkungan, dan pembangunan sumber daya manusia. Dengan potensi sumber daya perairan yang dimiliki Indonesia, pengembangan akuakultur berkelanjutan menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru Program Studi S1 Akuakultur FKP Unesa diharapkan semakin memahami posisi strategis bidang yang mereka pilih sekaligus termotivasi untuk mengembangkan kompetensi dan berkontribusi dalam membangun akuakultur Indonesia yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.