Hadirkan Pakar Industri, S1 Akuakultur Unesa Gelar Praktisi Mengajar "Dasar-Dasar Genetika Ikan" Bersama PT Aquacell
Surabaya, 21 September 2026 – Program Studi S1 Akuakultur, Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sukses menyelenggarakan kegiatan Praktisi Mengajar untuk Mata Kuliah Dasar-Dasar Genetika Ikan. Kegiatan ini menghadirkan praktisi ahli dari industri, yaitu Dr. Hasan Nasrullah dari PT Aquacell Indo Pasifik, pada Senin (21/9) pagi.
Bertempat di Auditorium FKP Unesa dan disiarkan secara langsung melalui platform Zoom, acara ini berlangsung secara hybrid dari pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Kegiatan ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademik di bangku kuliah dengan realitas praktis di industri akuakultur modern.
Dalam pemaparannya, Dr. Hasan Nasrullah membawakan materi yang sangat aplikatif dengan tema besar "Genetika sebagai Alat Bisnis" (Genetics is a Business Tool). Beliau menekankan bahwa pemahaman genetika bukan sekadar ilmu pewarisan sifat, melainkan kunci utama untuk menghasilkan komoditas unggul seperti "super-fish" dan "super shrimp" di masa depan.
"Materi kuliah hari ini adalah tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan genetika untuk menghasilkan benih yang unggul. Ini adalah cheat codes untuk industri, di mana genetika membantu menyelesaikan masalah dan meningkatkan keuntungan dalam menghadapi tantangan akuakultur modern," ujar Dr. Hasan di hadapan para mahasiswa.


Menghadapi Tantangan Akuakultur Modern
Dalam sesi tersebut, Dr. Hasan memaparkan empat tantangan utama dalam akuakultur modern yang menjadi pendorong perubahan industri, yaitu faktor Lingkungan (iklim dan tekanan lingkungan yang tidak menentu), Ekonomi (fluktuasi harga pakan dan efisiensi operasional), Bisnis & Skala (padat tebar tinggi dan stres), serta Kesehatan (kemunculan dan mutasi patogen).
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia memperkenalkan evolusi teknologi benih. Jika dahulu petambak hanya "membeli dan berharap", dan saat ini mulai beralih ke "memilih genetika" melalui Selective Breeding, maka masa depan akuakultur akan mengarah pada "Merekayasa Benih" (Genomics Breeding). Melalui pendekatan ini, benih dirancang agar memiliki potensi genetik paling optimal bahkan sebelum benih tersebut menyentuh air.
Genetika dan Analogi Chip Komputer
Dalam menjelaskan konsep genetika kepada mahasiswa, Dr. Hasan menggunakan analogi yang mudah dipahami. Ia menganalogikan DNA seperti chip pada komputer. "Semua informasi dan output performa tersimpan dalam baris kode pada chip ini. Di alam, ada banyak variasi kode chip. Namun, jika lingkungan budidaya berubah, chip lama bisa menjadi tidak cocok (mismatch) dan membuat sistem tidak optimal," jelasnya.
Oleh karena itu, ilmu dan implementasi genetika serta biologi molekuler berperan untuk mencari atau merekayasa "chip" terbaik agar hasilnya adalah profit bisnis yang optimal. Di tingkat hatchery atau balai benih, hal ini dilakukan dengan screening ribuan variasi chip di alam atau database, merekayasa chip terbaik yang tahan terhadap tantangan lingkungan, lalu memperbaruinya (update) ke keturunan berikutnya.
Praktik Selective Breeding
Sesi materi juga membahas secara mendalam mengenai Classical Selective Breeding (Pemuliaan Selektif Klasik). Dr. Hasan menjelaskan bahwa pemuliaan ini bisa didasarkan pada sifat Kualitatif (seperti pola warna, kecerahan, dan bentuk tubuh—contohnya pada ikan Guppy dan Koi) maupun sifat Kuantitatif (seperti ukuran ikan, bobot, konversi pakan, hingga fekunditas telur).


Mahasiswa diajak untuk memahami karakteristik utama yang menjadi target pemuliaan, antara lain pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, efisiensi pakan, warna dan bentuk tubuh, serta kualitas daging. "Benih yang dipelihara sudah membawa 'chip pilihan' yang kompatibel dengan tantangan lingkungan. Improvement dari Induk dan Benih unggul inilah yang akan membantu menyelesaikan masalah di lapangan. Itulah kenapa Genetika adalah Tool Bisnis," pungkasnya.
Kegiatan Praktisi Mengajar ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif antara mahasiswa dan pemateri. Diharapkan, melalui kegiatan ini, mahasiswa S1 Akuakultur Unesa tidak hanya memahami konsep dasar genetika, tetapi juga memiliki wawasan industri yang mumpuni untuk siap bersaing di dunia kerja setelah lulus nanti.