Food Security Summit Festival (FSSF) 2026: Inovasi, Kebijakan, dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia di Tengah Disrupsi Global
Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadi lokasi pelaksanaan Food Security Summit Festival (FSSF) 2026 yang mengangkat tema “Inovasi, Kebijakan, dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia di Tengah Disrupsi Global” dengan narasumber Prof. Ir. Muhammad Arsyad, S.P., M.Si., Ph,D. Dalam forum yang berlangsung di lingkungan FKP UNESA tersebut, ketahanan pangan dibahas sebagai isu strategis yang semakin penting di tengah berbagai disrupsi global, mulai dari perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga alih fungsi lahan pertanian. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Food Security Summit Festival (FSSF) 2026 yang mengangkat tema “Inovasi, Kebijakan, dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia di Tengah Disrupsi Global”.
Dalam pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya dijamin dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Pangan dipandang bukan sekadar komoditas, melainkan hak asasi manusia yang harus tersedia secara merata, tidak dapat ditunda, dan harus dijamin negara bagi seluruh masyarakat.
Berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2012, ketahanan pangan dibangun melalui tiga fondasi utama, yaitu kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan itu sendiri. Ketiga aspek tersebut menjadi dasar untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Materi yang disampaikan juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan ketahanan pangan tidak hanya dilihat dari ketersediaan pangan, tetapi juga keterjangkauan dan pemanfaatannya. Dengan demikian, pembangunan pangan nasional harus mampu menjamin bahwa masyarakat memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan berkelanjutan.
Sektor pertanian disebut masih memegang peran strategis dalam menopang ketahanan pangan nasional. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa sektor pertanian berkontribusi sebesar 13,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Selain itu, sektor ini mampu menyediakan pangan bagi lebih dari 287 juta jiwa, menjaga stabilitas harga, serta menjadi sumber devisa negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Tidak hanya itu, sektor pertanian juga menjadi penyedia lapangan kerja terbesar di Indonesia. Sekitar 28 hingga 30 persen tenaga kerja nasional masih bergantung pada sektor pertanian, sementara lebih dari separuh pendapatan rumah tangga petani berasal dari aktivitas pertanian.

Namun demikian, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan besar dalam pembangunan pertanian dan ketahanan pangan. Dalam forum tersebut dipaparkan sedikitnya tujuh tantangan utama, yaitu:
- Perubahan iklim ekstrem yang memengaruhi produktivitas pertanian dan perikanan.
- Konflik geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok dan harga pangan.
- Kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian yang masih perlu ditingkatkan.
- Dominasi petani berusia lanjut yang mengancam regenerasi sektor pertanian.
- Jumlah penyuluh pertanian yang masih terbatas.
- Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang menimbulkan tantangan distribusi pangan.
- Alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi di berbagai daerah.
Forum FSSF 2026 juga menyoroti pentingnya inovasi dan kebijakan yang adaptif untuk menjawab tantangan tersebut. Inovasi teknologi pertanian, digitalisasi sistem pangan, penguatan riset, hingga pengembangan sektor perikanan dan akuakultur dipandang menjadi solusi untuk meningkatkan ketersediaan pangan nasional.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam membangun sistem pangan yang tangguh. Perguruan tinggi memiliki peran penting melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal maupun nasional.
Program Studi S1 Akuakultur, Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) UNESA, juga menegaskan kesiapan untuk berkontribusi dalam memenuhi ketahanan pangan nasional melalui sektor perikanan budidaya. Melalui pengembangan budidaya perikanan, inovasi teknologi akuakultur, peningkatan kualitas pakan, hingga penguatan riset dan pengabdian kepada masyarakat, Prodi S1 Akuakultur siap menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan pangan di masa depan.
Melalui FSSF 2026, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai arah pembangunan pangan Indonesia ke depan. Di tengah disrupsi global, Indonesia perlu memperkuat kedaulatan dan kemandirian pangan agar ketahanan pangan nasional dapat terjaga secara berkelanjutan.