Belajar, Berkolaborasi, dan Peduli Lingkungan: Cerita Mahasiswa mengikuti UNESA EQUITY SUMMER COURSE 2026
Bisa mengikuti UNESA–EQUITY International Summer Course 2026 merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan berharga bagi Mahasiswa S1 Akuakultur FKP Unesa, Naura Azka Salsabila. Berikut ini dia menyampaikan pengalamannya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan selama tujuh hari, 1–7 Februari 2026, dengan mengangkat tema“Innovate, Inspire, Impact: Building Equity through SDGs and STEM.” Program ini mempertemukan berbagai latar belakang disiplin ilmu dalam satu ruang kolaborasi global untuk membahas isu kesetaraan melalui pendekatan STEM dan SDGs. Di sini saya dapat bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang yang berasal dari luar negeri, berbagai budaya, universitas dan usia.
Hari Pertama: Pengenalan SDGs dan STEM
Kegiatan diawali dengan registrasi dan Opening Ceremony di Auditorium Fakultas Kedokteran UNESA. Suasana hangat dan penuh antusiasme sudah terasa sejak awal. Kami diajak untuk memahami pentingnya Equity in Global Education and STEM (SDG 4)—bagaimana akses pendidikan yang setara menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan.
Setelah itu, kami mengikuti Design Thinking Workshop: From Problem to Prototype. Di sinilah kelompok proyek dibentuk. Diskusi lintas budaya mulai terjalin, dan kami belajar melihat suatu permasalahan global dari sudut pandang yang lebih luas. Hari pertama ditutup dengan city tour ke museum Balai kota Surabaya menggunakan bis yang semakin memperkenalkan kota Surabaya kepada para pendatang.
Hari Kedua: Energi, Pangan, dan Air sebagai Pilar Keberlanjutan
Memasuki hari kedua, kami mendapat materi mengenai Clean Energy and Climate Action (SDG 7 & 13) yang membuka wawasan tentang solusi energi terbarukan. Dilanjutkan dengan diskusi tentang Food Security and Smart Agriculture (SDG 2 & 9) yang sangat relevan dengan bidang akuakultur, terutama dalam konteks ketahanan pangan berkelanjutan.
Sesi Smart Tech for Water and Sanitation (SDG 6 & 9) semakin mempertegas bahwa pengelolaan air dan sanitasi merupakan isu krusial yang membutuhkan inovasi teknologi. Diskusi interaktif membuat kami tidak hanya memahami teori, tetapi juga menganalisis studi kasus nyata.
Hari Ketiga: Inklusivitas dan Ekonomi Berkelanjutan
Hari ketiga berfokus pada Inclusive Education and Gender Equality in STEM (SDG 4 & 5). Kami diajak merefleksikan bagaimana akses pendidikan dan partisipasi dalam bidang STEM harus terbuka bagi semua kalangan. Pada sesi ini kami di bentuk kelompok dan mendapat tugas berperan sebagai NGO untuk merumuskan strategi advokasi kesetaraan gender, dengan output mind maping dan di presentasikan di depan peserta lain.
Sesi berikutnya membahas Future of Work & Youth Finance (SDG 8) serta Circular Economy and Waste Innovation (SDG 12). Topik ini memberikan pemahaman bahwa inovasi tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang model ekonomi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Hari Keempat: Kesehatan dan Kunjungan Industri ke pabrik Teh
Pada pagi hari, kami mengikuti kuliah mengenai Health, Wellbeing, and Digital Health Innovations (SDG 3) yang membahas peran STEM dalam meningkatkan akses layanan kesehatan melalui teknologi.
Agenda kunjungan industri yang semula direncanakan ke Tropical Disease Center Universitas Airlangga mengalami perubahan. Sebagai gantinya, kami melakukan kunjungan ke pabrik teh dan kebun teh di Lawang, Kota Malang. Perjalanan ini memberikan pengalaman langsung mengenai proses produksi, manajemen industri berbasis agro, serta praktik keberlanjutan dalam sektor pertanian. Observasi lapangan tersebut memperlihatkan bagaimana integrasi teknologi dan pengelolaan sumber daya alam dapat mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan. Dikebun teh ini kamijuga diperlihatkan bagaimana Sejarah terbentuknya pabrik teh dan mendapatkan teh hangat dan salah satu produk teh dari pabrik.
Hari Kelima: Aksi Nyata pembersihan dan penanaman Mangrove
Hari kelima menjadi momen implementasi langsung melalui kegiatan community service. Setelah sampai di Lokasi kami harus naik perahu dulu menyusuri Sungai dengan view hutan Mangrove sejauh 5 km untuk melakukan pembersihan sampah dan penanaman bibit mangrove. Kegiatan ini bukan sekadar simbolis, tetapi bentuk nyata kontribusi terhadap pelestarian lingkungan pesisir dan mitigasi perubahan iklim. Nilai kolaborasi dan kepedulian lingkungan terasa sangat kuat pada hari ini dan menjadi hari yang paling saya sukai.
Hari Keenam: Presentasi Proyek dan Pertukaran Budaya
Setelah melalui proses diskusi dan pengembangan ide, setiap kelompok mempresentasikan proyek berbasis solusi SDGs yang telah dirancang. Presentasi ini menjadi puncak dari pembelajaran berbasis proyek selama program berlangsung. Kelompok saya
Pada sesi siang, kegiatan dilanjutkan dengan Cultural Session, di mana peserta saling memperkenalkan budaya masing-masing. Momen ini mempererat hubungan antar peserta dan memperkaya pengalaman lintas budaya.
Hari Ketujuh: Refleksi dan Penutupan
Hari terakhir diisi dengan video recap, sesi penghargaan, dan Closing Ceremony. Pengumuman tim terbaik dan peserta aktif menjadi penutup yang penuh apresiasi. Di hari terakhir beberapa tim menampilkan sebuah pentasi seni dan juga ada pertunjukan Reog Ponorogo. Di hari penutupan ini, semua peserta dan panitia bernyanyi Bersama dan berdansa dengan suka ria sebagai bentuk perpisahan yang berkesan.
UNESA–EQUITY International Summer Course 2026 bukan hanya pengalaman akademik, tetapi juga perjalanan pembelajaran lintas budaya yang memperluas wawasan dan jejaring internasional. Program ini menjadi langkah awal untuk terus berinovasi, menginspirasi, dan memberikan dampak nyata melalui ilmu yang dipelajari.